Jumat, 05 Juli 2013

Tugas Softskill 2

1.      5 Kalimat Efektif Dari Majalah dan Koran
a.       -    Desainnya buat dibuat khusus agar nyaman digunakan. (What Hi*Fi?, edisi Juni 2011, halaman 31)
-          Desainnya dibuat khusus agar nyaman digunakan.
b.      – Berikutnya kami ajak anda untuk berkenalan dengan jajaran anyar player blu-ray rilisan toshiba. (What Hi*Fi?, edisi Juni 2011, halaman 33)
-          Berikutnya kami mengajak anda untuk berkenalan dengan jajaran anyar player blu-ray rilisan toshiba.
c.       – Uang menggasak tas itu, pelaku langsung berlari ke rekannya yang menunggu diatas motor. (Poskota, Kamis 25 April 2013)
-          Setelah menggasak tas itu, pelaku langsung berlari ke rekannya yang menunggu diatas motor.
d.      – Segeralah berlangganan agar tak kehabisan! (What Hi*Fi?, edisi Juni 2011, halaman 82)
-          Segeralah berlangganan agar tidak kehabisan!
e.       – Dia jadi guru masih honorer alias masa percobaan. (Poskota, kamis 23 April 2013)
-          Dia menjadi guru masih honorer alias masa percobaan.
f.       – Padahal, jumlah penduduk Musi Rawas sendiri saat ini tak lebih dari 20.000an orang sementara luas wilayah itupun hanya 12.865km/persegi. (Harian Terbit, Rabu 1 Mei 2013)
-          Padahal, jumlah penduduk Musi Rawas sendiri saat ini tidak lebih dari 20.000an orang sementara luas wilayah itupun hanya 12.865km/persegi.
g.      – Suara agak hambar. (What Hi*Fi, edisi Juni 2011, halaman 53)
-          Suara sedikit hambar
h.      – Menanam terumbu karang itu enggak jauh beda dari menancapkan batang tanaman di tanah. (Kawanku, Kamis 2 Mei 2013)
-          Menanam terumbu karang itu tidak jauh beda dari menancapkan batang tanaman di tanah.
i.        – Putusan PT DKI Jakarta ini merupakan hasil dari banding yang diajukan tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi dan pengacara Hartati. (Kompas, Nasional, 2 Mei 2013)
-          Keputusan PT DKI Jakarta ini merupakan hasil dari banding yang diajukan tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi dan pengacara Hartati.
j.        – Kedua hal itu diimplementasikan menjadi lingkungan yang interaktif menghubungan antara sarana publik, komersial, serta rekreasi keluarga. (Kompas, Properti, 2 Mei 2013)
-          Kedua hal itu diimplementasikan menjadi lingkungan yang interaktif menghubungkan antara sarana publik, komersial, serta rekreasi keluarga.
2.      3 Kalimat yang Mengutamakan Bagian Kalimat Berupa Waktu dan Tempat
-          Keterangan Waktu
a.       Sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta, Rabu 1 Mei 2013 malam, tergenang air setelah diguyur hujan deras secara merata sejak siang. (Kompas, Megapolitan 2 Mei 2013)
b.      Kemacetan parah di beberapa lokasi juga berlangsung hingga Kamis 2 Mei 2013 dini hari. (Kompas, Megapolitan 2 Mei 2013)
c.       Tanggul Kali Krukut di Jalan Canadiyanti, Pela Mampang, Mampang Prapatan, juga dilaporkan jebol sekitar pukul 19.00 WIB. (Kompas, Megapolitan 2 Mei 2013)
-          Keterangan Tempat
a.       Genangan tinggi juga terjadi di kawasan Pondok Jaya Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, mencapai kedalaman 100 cm. (Kompas, Megapolitan 2 Mei 2013)
b.      Sementara itu, di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, tepatnya di depan gerai Kemchik, air menggenan setinggi 20-30 cm. (Kompas, Megapolitan 2 Mei 2013)
c.       Arus lalu lintas dari arah Ragunan masih mengular hingga lewat tengah malam.
3.      3 Kalimat yang Menunjukan Peristiwa yang Logis dan 3 Kalimat yang menunjukan penegasan dengan pengulangan kata
-          Peristiwa Logis
a.      Peristiwa itu bermula dari aktivitas jalan-jalan yang biasa dilakoni unta bersama pawangnya Abdullah.
b.      Unta itu tiba-tiba terkejut ketika seorang pekerja sirkus menjatuhkan kunci inggris.
c.       Suara kunci yang berdentam itu mengagetkan unta dan membuatnya lari kearah perempatan jalan yang ramai.
-          Penegasan
a.       Priyo mengatakan, DPR tidak punya kewenangan untuk menyetujui atau tidak menyetujui kenaikan harga BBM. (Kompas, Bisnis, Rabu 1 Mei 2013)
b.      Menurut Presiden, kenaikan harga BBM akan dilaksanakan jika DPR setuju. (Kompas, Bisnis, Rabu 1 Mei 2013)
c.       Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, pemerintah melempar bola panas, termasuk resiko politik dari kenaikan harga BBM, ke DPR. (Kompas, Bisnis, Rabu 1 Mei 2013)
4.      5 Kalimat yang didalamnya terdapat pengulangan subjek kalimat yang tidak diperlukan
-          Setelah saya periksa ke dokter ternyata saya mengalami alergi yang disebabkan teh, kopi, wortel, cumi, udang, bandeng, susu, debu, kedelai, dan lain-lain. (Kompas, Female, 9 November 2012)
-          Tapi kelemahan saya, saya kurang percaya diri, minder, pemalu. (Kompas, Female, 13 November 2012)
-          Artinya, Anda menerima apapun kelebihan dan kekurangan yang melekat pada diri Anda selama ini. (Kompas, Female, 13 November 2012)
-          Hal apakah dari diri saya yang kurang disukai orang lain atau teman saya? (Kompas, Female, 13 November 2012)
-          Selama ini saya tidak pernah bermasalah dengan kulit saya. (Kompas, Female, 9 November 2012)
5.      Kalimat dengan variasi pembukaan :
a.      Frase keterangan tempat : Indonesia dinilai masih layak untuk penanaman modal. (Kompas, Selasa 27 November 2012, halaman 17)
b.      Frase keterangan waktu : Hari kamis lalu sehari setelah dipuji dunia karena berhasil memaksa Israel dan Hamas untuk melakukan gencatan senjata. (Kompas Tajuk Rencana, Selasa 27 November 2012, halaman 6).
c.       Frase keterangan cara : Itu pun mereka harus mengangkat kakinya ke atas kursi agar tidak terkena air. (Kompas, Megapolitan, 2 Mei 2013)
d.      Frase verbum

e.       Partikel penghubung : Kalau pemerintah tidak mau ambil keputusan, risiko ekonominya tanggung jawab pemerintah. (Kompas, Bisnis, Rabu 1 Mei 2013)

Berbahasa Sesuai dengan Ranah Pemakaiannya

Bahasa adalah salah satu bentuk budaya, juga merupakan suatu alat komunikasi manusia, baik dalam bentuk berupa lisan maupun tulisan yang memiliki fungsi, esensi, maksud dan kedudukan. Namun di Indonesia saat ini, penggunaan bahasa hampir tidak sesuai dengan ranah pemakaiannya. Seringkali kita jumpai masyarakat mencampurkan atau men-derivasi-kan dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Misalnya sebagai contoh, di acara program TV, artis-artis yang diwawancarai seringkali memadukan antara bahasa asing dengan bahasa Indonesia dan terkadang bahasa prokem juga digunakan sehingga masyarakat pun banyak yang mengikuti gaya bicara seperti artis tersebut. Banyak juga terjadi pada anak-anak yang menggunakan bahasa prokem sebagai bahasa sehari-hari akibat acara-acara televisi yang terkadang tidak mendidik sehingga terjadi bergesernya tata krama antar orang tua dan anak. Terlebih lagi bahasa daerah kini semakin bergeser dan hampir tidak digunakan lagi, karena terlalu seringnya menyaksikan tayangan-tayangan kurang mendidik dan lingkungan sekitar di sinilah sangat dibutuhkan peran pendidik dan orangtua mengajarkan kepada anak untuk berbahasa sesuai dengan ranah pemakaiannya.
Jika kita mendiskusikan tentang bahasan ini lebih jauh, kita dapat melihat faktanya kini banyak anak yang mulai menganal kata-kata orang dewasa seperti kata “pacaran”, “cinta”, dan lain sebagainya yang belum mereka pahami apa makna sebenarnya dari kata-kata tersebut. Dan juga terkadang mereka menggunakan kata “Elu” dan “Gue” pada orang yang lebih tua termasuk pada orangtua mereka sendiri yang sebenarnya kata-kata tersebut dinilai kurang sopan untuk lawan bicara mereka tersebut. Hal ini terjadi karena banyaknya tayangan televisi yang mereka tonton yang kebanyakan memang diperuntukkan bagi remaja dan orang dewasa yang tayang pada jam-jam anak.

Pengaruh Globalisasi Terhadap Pengembangan Bahasa Indonesia
Globalisasi adalah suatu aktifitas, keputusan, atau kejadian yang terjadi di satu tempat di permukaan bumi yang secara signifikan menimbulkan dampak terhadap komunitas di permukaan bumi lainnya. Globalisasi tidak sama dengan internasionalisasi. Proses globalisasi tidak berdampak seragam secara spasial karena setiap Negara atau region atau daerah lokal tertentu memiliki karakteristik tersendiri. Oleh karena itu proses globalisasi akan menghasilkan daya tolak dalam bentuk proses regionalisasi atau lokalisasi

Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
Hubungan Transplanetari dan Suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.


Sumber : http://ravi-vendra.blogspot.com/2013/07/penggunaan-bahasa-sesuai-ranah.html

Jumat, 14 Juni 2013

Tugas Softskill

Nama kel. : Amorezky hartami (10110616), Dimas andaru (12110023), dwita aiti utri (12110224)
1. Mengapa fungsi komunikasi bahasa disebut fungsi dasar ? Mengapa pula disebut fungsi utama ?
Bahasa disebut fungsi dasar karna pada dasarnya bahasa merupakan alat kita berkomunikasi, berinteraksi antar manusia satu sama lain sebagai alat mengekspresikan diri kita. Dengan bahasa juga kita lebih mengenal dunia maka dari itu bahasa sangat diperlukan sebagai dasar kita untuk mengenal dunia luar atai individu lain sebagai alat bersosialisasi. Dan mengapa juga bahasa disebut fungsi utama karena tanpa bahasa tentunya kita tidak dapat bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan sekitar kita, bahasa sebagai alat utama untuk kita bisa berkomunikasi atau sebagai contoh bila kita ingin bekerja di suatu perusahaan asing maka kemampuan bahasa asing kita tentu diutamakan karena kita sebagai orang Indonesia dan bila kita ingin berpergian ke luar negeri tentu kemampuan berbahasa yang baik dan benar sangat diutamakan sekali.


1.      2. Sebutkan 3 contoh alat komunikasi sosial yang bukan bahasa dan jelaskan fungsinya !
a)      Lonceng


Lonceng adalah suatu peralatan sederhana yang digunakanuntuk menciptakan bunyi. Bentuknya biasanya adalahsebuah tabung dengan salah satu sisi yang terbuka dan bergema saat dipukul. Alat untuk memukul dapat berupa pemukul panjang yang digantung di dalam lonceng tersebutatau pemukul yang terpisah. Menurut KBBI, loncengmemiliki dua pengertian, pertama lonceng adalah semacam bel yang dibunyikan untuk menentukan waktu ataumemberitahukan sesuatu, sedangkan pengertian yang kedua,lonceng adalah jam besar atau arloji. Lonceng-lonceng besar pada umumnya terbuat darilogam namun lonceng-lonceng kecil dapat pula terbuat dari keramik atau porselen.Dahulu lonceng digunakan untuk mengabarkan suatu berita kepada masyrakat dansebagai penanda waktu. Lonceng juga digunakan oleh umat Kristiani untuk memberitanda waktu beribadah, biasanya dibunyikan tiga kali, pada pukul 06.00. 12.00, dan18.00. Lonceng digunakan pertama kali dalam gereja Katolik sekitar tahun 400 masehi,dan dianggap diperkenalkan oleh Paulinus, Uskup Nola, sebuah kota di Campania, Italia.Penggunaannya menyebar luas dengan cepat dan tidak hanya digunakan untuk mengumpulkan umat dalam acara keagamaan, tetapi juga sebagai peringatan ketika ada bahaya.

b)      Kulkul


Kulkul adalah alat komunikasi tradisional masyarakat Bali, berupa alat bunyian yang umumnya terbuat dari kayu atau bambu dan benda peninggalan para leluhur. Di setiap organisasi tradisional di Bali terdapat setidaknya sebuah kulkul. Selain di Bali, Kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan terdapat hampir di seluruh pelosok kepulauan Indonesia.

Ø   Fungsi
Kulkul memunyai fungsi yang berkaitan erat dengan kegiatan banjar. Berikut merupakan beberapa fungsi dari kulkul:
a. Tanda Pertemuan Rutin
Masyarakat Bali biasanya melakukan pertemuan rutin sebulan sekali pada setiap banjar. Menjelang hari pertemuan, didahului dengan memukul kulkul dengan sebuah alat pemukul dari kayu. Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.
b. Tanda Pengerahan Tenaga Kerja
Selain sebagai tanda pertemuan, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Pengerahan tenaga kerja tersebut ada yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak. Contohnya gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura bagi masyarakat Bali, dan mencuci barang-barang suci adalah bentuk-bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan. Pengerahan diawali dengan terdengarnya suara kulkul, warga pun segera berkumpul dan bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa. Sedangkan pengerahan tenaga kerja yang sifatnya mendadak umumnya menanggulangi kejadian yang tiba-tiba menimpa banjar. Kejadian itu dapat berupa kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan pencuri. Bunyi kulkul terdengar cepat dan panjang. Ini sebagai isyarat supaya warga segera datang atau berjaga-jaga karena ada bahaya mengancam.
c. Tanda Gejala Alam
Di samping sebagai tanda pertemuan rutin dan pengeran tenaga kerja, kulkul sering kali digunakan ketika terjadi gejala alam seperti gerhana bulan yang akan disambut oleh seluruh banjar dengan membunyikan kulkul. Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.

c)      Bedug



Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedugmerupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakansejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alatkomunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritualkeagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasadibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atausembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batangdilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang.Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapatterdengar sampai jarak yang cukup jauh.

3   Bahasa Indonesia mempunyai empat jenis definisi, yaitu definisi nominal, formal, operasional, dan luas. Jelaskan ke 4 jenis definisi tersebut dan tuangkan jawabannya dalam sebuah teks dengan topik Teknologi Informasi atau yang terkait dengan bidang studi kalian. Tulisan dibuat secara singkat dan jelas!
·         Definisi Nominal:  Definisi ini biasa digunakan dalam kamus. Dalam definisi ini suatu kata dibatasi dengan kata lain yang merupakan sinonimnya (padanan), lalu dengan terjemahannya atau menunjukkan asal katanya (etimologi), atau dengan asal-usul sebuah kata.
Contoh :
-          Alat komunikasi adalah handphone
-         Computer sekarang lebih berkembang dengan ukurannya yang lebih kecil yaitu computer jinjing atau laptop
-          Mozilla dan google chrome merupakan browser

·         Definisi Formal: Disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur. Ketiga unsur tersebut harus tapak dalam definiens. Struktur formal diawali dengan klasifiksi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendum, dilanjutkan dengan menyebutkan genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda. Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas lain.
Contoh :
-    HTML atau Hyper Text Markup Language merupakan adalah bahasa dari Worl Wide Web (www) yang dipergunakan utntuk menyusun dan membentuk dokumen agar dapat ditampilkan pada program web browser.
-  Website adalah halaman informasi yang disediakan melalui jalur internet sehingga bisa diakses di seluruh dunia selama terkoneksi dengan jaringan internet.
·         Definisi Operasional: Batasan pengetian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian. Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melakasanakan sustu penelitian atau pekerjaan terntentu. Definis ini disebut juga definisi subjecktif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang akan melakukan pekerjaan.
Contoh :
Research yang dilakukan oleh para penelitii Universitas Gunadarma terhadap 100 mahasiswanya untuk mengetahui ketertarikan mahasiwa terhadap jurusan yang mereka ambil.

·         Definisi Luas: Definisi ini merupakan uraian panjang lebar, bisa satu paragraph, satu bab, atau bisa meliputi seluruh karangan. Definisi ini diperlukan bila kita berhadapan dengan suatu konsep yang amat rumit, yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat yang pendek.
Contoh:
Presentation Layer
Lapisan ini melakukan hanya suatu fungsi tunggal: translasi dari berbagai tipe  sistem. Layer ini pada dasarnya adalah penerjemah, pengkodean dan pengkonversi. Teknik transfer data yang berhasil adalah dengan mengadaptasi data tersebut ke dalam format standar sebelum dikirim. Standar yang digunakan untuk mengatur presentasi grafis, film dan suara adalah sebagai berikut : PICT, TIFF, JPEG, MIDI, MPEG, QUICK TIME, RTF.

4. Bacalah surat kabar dan majalah. Cari dan temukan paragraph argumentasi yang deduktif dan induktif !
Deduktif : Akibatnya pengawasan di TPS sangat longgar, "Jadi ini harus diatasi tidak hanya melihat UU, tidak ada solusinya", katanya seusai rapat dengan RDP antara Barwaslu dan Komisi III di Gedung DPR, Jakarta kemarin. Karena itu, dia menilai harus ada keputusan politik yang dapat menyelesaikan persoalan ini. (Sindo, 13 Juni 2013)

5. Cari dan temukan paragraph atau wacana campuran : deskripsi, narasi, argumentasi, baik yang deduktuif maupun yang induktif !
Narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa.
Ciri-cirinya: ada kejadian, ada pelaku, dan ada waktu kejadian.
Contoh: Anak itu berjalan cepat menuju pintu rumahnya karena merasa khawatir seseorang akan memergoki kedatangannya. Sedikit susah payah dia membuka pintu itu. Ia begitu terkejut ketika daun pintu terbuka seorang lelaki berwajah buruk tiba-tiba berdiri di hadapannya. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengayunkan tinjunya ke arah perut lelaki misterius itu. Ia semakin terkejut karena ternyata lelaki itu tetap bergeming. Raut muka lelaki itu semakin menyeramkan, bagaikan seekor singa yang siap menerkam. Anak itu pun memukulinya berulang kali hingga ia terjatuh tak sadarkan diri.
Deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar, atau merasa objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat.
Ciri-cirinya: ada objek yang digambarkan.
Contoh: Perempuan itu tinggi semampai. Jilbab warna ungu yang menutupi kepalanya membuat kulit wajanya yang kuning nampak semakin cantik. Matanya bulat bersinar disertai bulu mata yang tebal. Hidungnya mancung sekali mirip dengan para wanita palestina.
Argumentasi adalah paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya.
Ciri-cirinya: ada pendapat dan ada alasannya.
Contoh: Keberhasilan domain itu memang tidak mudah diukur. Sebab, domain tersebut menyangkut hal yang sangat rumit, bahkan terkait dengan "meta penampilan" siswa yang kadang-kadang tidak kelihatan. Membentuk karakter manusia memang membutuhkan pengorbanan, sebagaimana yang dilakukan negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Malaysia. Mereka bisa maju karena memiliki banyak orang pintar dan berkarakter.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa
http://dickypradanaputra.blogspot.com/2012/12/peranan-dan-fungsi-bahasa-indonesia.html
http://dimasamiluhur.blogspot.com/2013/06/tugas-softskill-ke-3.html

Kamis, 02 Mei 2013

Persepsi Bunyi Choo’on Dalam Kosakata Pendidikan Bahasa Jepang

LATAR BELAKANG
Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan huruf, tetapi miskin dengan bunyi. Bahasa Jepang juga membedakan pengucapan panjang pendeknya vokal dan fakta ini tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia (Dedi Sutedi, 2003:7). Bahasa Jepang memiliki pasangan vokal panjang (dalam penelitian ini akan memakai istilah choo’on) dan vokal pendek (tan’on). Tan’on terdiri dari vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, sedangkan choo’on terdiri dari vokal /a:4/, /i:/, /u:/, /e:/ /o:/. Choo’on seringkali diabaikan dan dianggap tidak penting dalam pembelajaran bahasa Jepang.   Padahal dalam bahasa Jepang, kosakata yang mengandung choo’on dan kosakata yang tidak mengandung choo’on memiliki arti yang sama sekali berbeda. Contohnya pada kata obasan yang artinya bibi diucapkan dengan vokal pendek [a] dan kata obaasan yang artinya ibu diucapkan dengan vokal panjang [a:]. Apabila sesama pembelajar bahasa Jepang salah dalam mempersepsikan bunyi vokal panjang hal ini dapat berakibat fatal, arti panjang pendek dalam bahasa Jepang memiliki arti yang berbeda. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Dengan kecanggihan teknologi komputer masa kini, kajian fonologi menjadi lebih luas dan beragam. Barbagai hal yang dulu dianggap mustahil atau sulit, saat ini, dengan bantuan komputer menjadi mungkin dan mudah. Persepsi adalah proses mengenali bentuk fisik signal bunyi berupa analog yang masuk kedalam telinga, lalu signal itu otomatis terkonversi menjadi digital untuk dapat dikenali oleh otak. Masalahnya adalah bagaimana otak dapat mengenali bunyi sebagai unit linguistik yang jelas, padahal masukan bentuk fisik signal bunyi itu berupa gelombang bunyi yang bersifat kontinue (Kushartanti dkk, 2005:241). Begitu juga dengan persepsi terhadap bunyi choo’on dapat dianalisis melalui teknologi komputer.

TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui bagaimana kemampuan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang dalam
mempersepsikan bunyi choo’on. Mengetahui bagaimana hubungan kemampuan mempersepsi bunyi choo’on
dengan arti kosakata yang sudah dikenal.

TARGET PENELITIAN
Meneliti bagaimana kemampuan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang dalam
mempersepsikan bunyi panjang pendek.

METODE PENELITIAN
Penulis mengumpulkan data choo’on yang terdapat di dalam buku Minna no Nihongo I, Minna No Nihongo
II dan Kana Nyumon. Buku ini dipilih karena merupakan buku dasar untuk mempelajari bahasa Jepang serta
di dalamnya terdapat banyak kosakata. Data choo’on yang telah terkumpul di klasifikasikan berdasarkan
letaknya, yaitu di awal, di tengah, di akhir, diawal dan di akhir kata. Kemudian penulis menseleksinya
menjadi 45 buah kosakata. Kosakata tersebut dibaca oleh native speaker kemudian penulis merekamnya
dengan menggunakan handphone bertujuan agar suara rekaman tersebut berformat wave sehingga
memudahkan menganalisisnya kedalam program praat. Tes yang dilakukan adalah mendengarkan bunyi
choo’on dalam bentuk kata.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tes sebagai data penelitian. Data tes diambil dengan cara meminta
responden untuk mendengarkan kosakata dengan menggunakan alat pemutar suara (laptop) yang didukung
oleh pengeras suara (speaker). Semua data yang terkumpul diolah dengan menggunakan alat bantu komputer
program praat. Alat ini dapat secara mudah melakukan pengukuran intensitas, durasi, dan frekuensi. Dalam
pengolahan data dibuat tahap-tahapannya, yang pertama adalah tahap digitalisasi. Data dibacakan oleh
native speaker dan direkam dengan handphone. Kemudian dilakukan pengrekaman ulang dengan program
praat. Selanjutnya tahap segmentasi data, yaitu data yang telah direkam dipisah kedalam segmen bunyi.

HASIL PENELITIAN
Untuk bunyi choo’on yang terletak di awal kata, 95% responden mempersepsikan dengan benar bahwa
kosakata どうろ(douro) merupakan sebuah choo’on, sedangkan 5% responden salah dalam menjawab soal
ini.
Untuk bunyi choo’on yang terletak di tengah kata, 90% responden mempersepsikan dengan benar bahwa
kosakata ちょうきん(choukin) merupakan sebuah choo’on, sedangkan 10% responden salah dalam
menjawab soal ini.
Untuk bunyi choo’on yang terletak di akhir kata, 86% responden mempersepsikan dengan benar bahwa
kosakata ふとう(futou) merupakan sebuah choo’on, sedangkan 14% responden salah dalam menjawab soal
ini. Untuk bunyi choo’on yang terletak di awal dan tengah kata, 86% responden mempersepsikan dengan
benar bahwa kosakata れいぞうこ(reizouko) merupakan sebuah choo’on, sedangkan 14% responden salah
dalam menjawab soal ini.
Untuk bunyi choo’on yang terletak di awal dan akhir kata, 86% responden mempersepsikan dengan benar
bahwa kosakata とうけい (toukee) merupakan sebuah bunyi choo’on, sedangkan 14% responden salah
dalam menjawab soal ini.

KESIMPULAN
Bunyi choo’on memiliki panjang kira-kira dua kali lipat vokal pendeknya (tan’on). Arti panjang pendeknya
sebuah kata dalam bahasa Jepang dapat menimbulkan perbedaan makna. Hal ini harus diperhatikan agar
tidak terjadinya kejanggalan dan kekurangjelasan dalam berkomunikasi.

Senin, 21 Januari 2013

Daftar Pustaka

A. Pustaka acuan berupa buku.
Untuk urutan penyebutan unsur-unsur pustaka untuk buku ialah : a). Nama penulis, b) Tahun terbit, c). Judul Pustaka beserta keterangannya, d). Tempat terbit atau kota terbit, dan e). Nama penerbit.
Jika tidak terdapat nama penulis  dalam buku tersebut urutan penyebutan adalah : a). Nama lembaga yang bertanggungjwab b). Tahun terbit, c). Judul pustaka beserta keterangnnya, d) tempat terbit, dan e). Nama penerbit.
Setiap unsur pustaka dipisahkan oleh tanda titik, kecuali unsur tempat terbit yang diikuti oleh titk dua dan unsur nama yang harus dipisahkan oleh tanda koma. setelah tanda titik atau setelah titik dua ada jarak satu ketukan. contoh penulisan unsur pustaka acuan yang berupa buku diatur sebagai berikut :

a. Nama penulis
Nama penulis ada yang terdiri dari satu unsur, dua unsur, atau lebih dari dua unsur. Ketentuan pencantuman nama penulis adalah sebagai berikut :

1). Pencantuman nama penulis berdasarkan abjad, tanpa diberi nomor. Misalnya, jika nama penulis buku yang pertama Prof. Dr. Sumardjono dan nama penulis buku yang lain Dr.Ir. Baihaki, pencantuman dalam daftar pustaka adalah :
          Baihaki.
          Sumardjono.

2). Jika nama penulis buku terdiri atas dua unsur atau lebih, pencatumannya harus dibalik; unsur nama yang terakhir ditulis terlebih dahulu, kemudian tanda koma, diikuti unur nama didepan dengan disingkat. antara tanda koma dengan singkatan unsur nama diberik jarak 1 (satu) ketukan. Misalnya, pengarang buku yang diacu Abdul Haki dan pengarang buku lainnya Teodorus Albert Wenas, pencantumannya dalam daftar pustaka adalah :
                   Haki, A
                   Wenas T.A.

3).Jika penulis buku tersebut dua orang, nama penulis pertama dibalik, tetapi nama penulis lainnya tidak dibalik. Misalnya, jika penulis buku itu adalah Kabul Santoso dan Rudi Wibowo, penyajiannya adalah:
                   Santoso, K dan R. Wibowo.
Contoh:
Johan Wahyudi dan Ilham Ahmad Husaini. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 

4). Jika penulis buku terdiri dari tiga orang atau lebih, penyajiannya adalah nama penulis pertama dibalik, nama pengarang kedua, ketiga dan seterusnya ditulis tanpa dibalik. misalnya :
                 Idris, Z.husin; A. Tohari dan M. Singarimbun.

5). Jika penulisnya tidak ada, yang pertama dicantumkan adalah nama lembaga yang menerbitkan buku tersebut. misalnya :
                 Lembaga Administrasi Negara.

6). Jika ada dua buku atau lebih yang diambil dari pengarang yang sama, penulisan nama pengarang cukup sekali, sedangkan pada buku yang kedua nama pengarang diganti dengan garis terputus-putus sepuluh ketuk mesin ketik yang diikuti tanda titik. Misalnya :
                Farida, Ida. 1995. Budidaya Lebah Madu. Jakarta: Gramedia.
                ......... 1996. Budidaya Tanaman Kedelai. Jakarta: Gramedia

7). Kalau buku yang diacu disusun oleh seorang editor, dibelakakng nama pengarang ditulis kata Ed. Misalnya :
               Koentjaraningrat (Ed)

8). gelar kesarjanaan tidak dituliskan dalam daftar pustaka. gelar keturunan masih dapat dipakai. mislanya, nama pengarang adalah Prof.Dr. Raden Mas Soegondo, penulis nama daftar pustaka adlaah :
               Soegondo, Raden Mas.

9). Jika seorang penulis menggunakan dua atau lebih buku dari penulis yang sama, daftar pustaka ditulis dengan mengurutkan tahun lama ke tahun yang lebih muda. Di bawah nama penulis diberi garis panjang tanpa putus sebanyak 10 spasi. Jika satu baris tidak mencukupi, baris berikutnya dibuat menggantung atau hanging. 
Contoh:

Johan Wahyudi. 2009. Menjadi Cerpenis. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. ___________.. 2010. Terampil Menulis Surat. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 

10). Jika sebuah buku ditulis tiga orang atau lebih, hanya penulis utama yang ditulis dengan diikuti dkk (dan kawan-kawan). Penulis utama adalah penulis yang letak namanya berada di kiri atau atas susunan penulis. 
Contoh:
Johan Wahyudi, Ilham Ahmad Husaini, dan Muhammad Zuhdi Alghifari. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. (salah). 

Johan Wahyudi, dkk. 2009. Panduan Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. (benar).

11). Nama asing dibalik karena nama asing meletakkan nama diri di belakang nama keluarga atau nama marga. 

Contoh:
-  Noam Chomsky. 1997. Introducing of Linguistic. British: Universal Oxford Press Ltd. (salah).
- Chomsky, Noam. 1997. Introducing of Linguistic. British: Universal Oxford Press Ltd. (benar). 

B. Penulisan Judul

Judul buku ditulis setelah angka tahun penerbitan, judul buku digaris bawahi atau cetak miring Contoh : Alfian 1980 Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia  
    1.   Judul buku tidak boleh frase non-kalimat. Contoh :  Polisi Tangkap Penyelundup -----> Polisi Menangkap  Penyelundup, Soni Janji Berantas Calo -----> Soni Berjanji Memberantas Calo.
   2.   Tanda petik dalam judul. Untuk satu atau dua kata, dipakai tanda petik tunggal. Contoh: Presiden adalah ‘Pelayan’ Masyarakat Untuk kutipan kalimat, misalnya judul wawancara, tetap dipakai tanda petik ganda. Contoh: Soeyono : “Ada Duplikasi Komando antara Feisal dan Hartono”
   3.   Kata ulang murni dalam judul ditulis dengan huruf besar di kedua kata. Contoh : Cukong-Cukong Dipenjara Membatalkan Undang-Undang Karet Anggota DPR Pukul-pukulan (bukan kata ulang murni). 
   4.    Judul ditulis dengan huruf awal besar untuk setiap kata, kecuali kata yang berjenis partikel seperti di bawah ini:
Contoh:
-          ala              - dan                - di
-          buat           - dengan          - kepada
-          daripada    - ke                  - pun
-          karena        - per                 - sebelum
-          pada          - setelah           - tentang
-          sampai       - tapi                - yang
-          tanpa         - untuk
-          tetapi         - bagi
-          atau           - dari
Contoh:
Memancing tanpa Umpan tetapi Hasilnya Menakjubkan Antara Anyer dan Jakarta Untung buat Saya, Buntung buat Semua.

C. Tahun Penerbit
Aturan penulisan tahun terbit adalah sebagai berikut :

1. Tahun penerbitan ditulis setelah nama penulis dan diakhiri dengan tanda titik.
Contoh :
- Moeliono, Anton M. 1988
- Siregar, Saut, 1999

2. Jika ada dua buah buku atau lebih yang dituliskan oleh pegnarang yang sama, tetapi tahun penerbitnya berbeda buku yang tahun penerbitnya lebih awal ditulis lebih dahulu. Namun pengarang ditulis ulang.
Contoh : - Suparni, 1993
- Suparni, 1996

3. Jika terdapat dua buah buku atau lebih yang ditulis oleh pengarang yang sama dan tahun penerbitnya pun sama, dibelakang tahun penerbit diberi huruf a,b,c dan seterusnya sebagai tanda pembeda.
Contoh :
- Senjaya, Erwin 1999 a.
- Senjaya, Erwin 1999 b.
4. Jika ada buku yang tidak berangka tahun penerbitan di belakang nama pengarang ditulis kata tanpa tahun.
Contoh :
Cahya, Evan Dwi, Tanpa Tahun

D. Nama Penerbit
Nama penerbit ditulis setelah judul buku, penulisanya didahului nama kota tempat terbit dan tanda titik dua.
Contoh :
- Alfian. 1980. Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia
Jakarta : LP3ES

E. Catatan Kaki (Foot Note)

Tujuan penulisan catatan kaki atau foot note antara lain:
         1. Bahan penunjang pembuktian atau fakta, konsep, analisis, gagasan, maupun 
             pendapat.
         2. Penghargaan kepada penulis buku.
         3. Keterangan pemerolehan informasi untuk memperjelas atau mempertegas 
             masalah dalam buku.

Sebelum penulisan catatan kaki biasanya ada tanda khusus, seperti penomoran (1,2, dst.) atau tanda bintang (*) yang diberikan pada kata atau kalimat dalam tulisan Anda yang membuktikan keterangan atau catatan kaki. Penulisannya ditempatkan agak ke atas setengah spasi dari teks.

Secara umum, catatan kaki terdiri atas unsur-unsur berikut:
           1.      Nama Pengarang
a.       Ditulis lengkap sesuai urutan biasa, contoh: Prof. Dr. Gorys Keraf, dsb.
b.      Jika terdiri atas dua atau tiga pengarang, maka semua pengarang dicantumkan,
Contoh: Drs. Mohammad Arifin, Ahmad Efendi, S.Pd.
c.       Jika terdiri dari empat pengarang atau lebih maka cukup nama pertama yang dicantumkan. Nama kedua dan berikutnya digantikan dengan singkatan et al. (et alia=dan lain-lain).
Contoh: Yoga Alwi, et al.
d.      Jika mengambil rujukan dari sebuah kumpulan  (bunga rampai, antologi), maka dibelakang nama penyunting akhir ditambahkan singkatan ed, (editor) yang dipisahkan dengan tanda koma,
Contoh: Korie Layun Rampan, ed, dan sebagainya.
e.       Jika tidak ada nama pengarang atau editor, maka catatan kaki dimulai dengan judul buku atau artikel

            2.      Judul Buku
a.       Penulisan ditempatkan dalam tanda kutip, contoh: "Kajian Drama"
b.    Jika kutipan berikutnya masih dari sumber yang sama, maka penulisan judul digantikan dengan singkatan Ibid., Op.cit., Contoh: Korie Layun, ed.Ibid. (Jakarta, 2004), hal. 18.

           3.      Tempat dan Tahun Terbit
         Tempat dan tahun terbit ditemapatkan dalam tanda kurung dan dipisahkan dengan sebuah koma,
     Contoh: (Jakarta, 2004). Adapun jika menyebutkan nama penerbit, maka ditempatkan sesudah                          nama tempat dan diberi tanda titik dua (:) sebelumnya, contoh: (Jakarta: Grasindo, 2004)

           4.      Nomor Halaman

           Nomor halaman ditulis dengan menggunakan singkatan (hal.), contoh: hal 
           124.
Berdasarkan unsur-unsur di atas maka urutan penulisan catatan kaki dimulai dengan: penulisan nama pengarang, judul sumber yang dikutip, (nama temapat, nama penerbit, tahun terbit), hal.
Contoh:
Korie Layun Rampan, ed. "Tokoh-Tokoh Cerpen Indonesia", (Jakarta: Grasindo, 2004), hal. 18

Ø  Aturan penulisan Catatan kaki:

1) Catatan kaki atau footnote diberi nomor. Bila dalam satu halaman terdapat lebih dari satu footnote, penulisannya diberi jarak 1 spasi.
2) Catatan kaki ditempatkan pada halaman yang sama dengan kutipan tersebut.
3) Jarak catatan kaki atau footnote dengan kalimat pada teks terakhir pada halaman naskah, adalah 4 spasi dan diberi garis pemisah kurang lebih 3 cm, dari tepi kiri naskah ke tengah-tengah antara teks dengan footnote.
4) Catatan kaki dapat diambil dari sumber-sumber seperti: buku, majalah, surat kabar, dan karangan yang tidak diterbitkan, seperti thesis, disertasi atau ensiklopedi.
5) Nomor catatan kaki dapat diangkat sedikit ke atas dari ban footnote, tetapi jangan sampai mencapai satu spasi. Nomor tersebut jaraknya 6 karakter ketika dari garis tepi sebelah kiri. Jika footnote lebih dari baris, maka baris kedua diketik pada garis tepi dari teks dengan jarak satu spasi.
Contoh :
a) Imawan, Riswandha, Metodologi Penelitian, Program Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya 1997.
b) Me Quail, Dennis, Mass Communication Theories an Introduction, London Sage Publication, 1994.
6) Apabila catatan kaki terdiri dari kumpulan tulisan yang berasal dari suatu buku, penulisan footnotenya sebagai berikut:
- Siregar, Ashadi, Analisis atas perspektif genderisme atas majalah wanita di Indonesia, Lembaga Penelitian UGM, Jogyakarta, 1992.
- Bejana Wanita, Panitia Dialog Perempuan dalam Iklan Kalyanamitra, Jakarta, 1996.
7) Jika footnote mengambil dari buku-buku terjemahan, maka disebutkan nama penulis buku, bukan yang menerjemahkannya. Misalnya : Douglas A. Boyd, Critical Studies in Mass Communication, terjemahan Sumarsono, BP3U Surabaya, 2000.
8) Dalam footnote penulisan nama pengarang dilakukan menurut urutan nama yang sewajarnya, sesuai dengan yang tertulis pada buku yang diacu. Pangkat atau gelar seperti Prof. Dr. Mr. dan sebagainya tidak disebutkan.
9) Keterangan atau penjelasan tentang penerbit, harus disusun secara urut seperti nama, tempat, tahun penerbitan, nomor halaman dan sebagainya.
10) Bila buku tersebut dicetak berulang kali, maka harus ditunjukkan "Cetakan ke…" di belakang judul buku yang dirujuk, dengan diberi garis bawah. Antara judul dengan keterangan tentang cetakan dapat diberi pemisah dengan tanda koma.
Contoh:
- Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communication, fifth edition, Wardaworth Publishing Company, USA, 1996.
11) Jika yang dijadikan footnote adalah majalah, penulisannya sebagai berikut: Gunawan Muhammad, Pembreidelan itu, Buku Putih Tempo, Jakarta, 1996.
12) Apabila footnote berasal dari buku-buku yang berjilid, keterangan tentang jilid itu harus diletakkan sebelum nama penerbit.
Contoh:
- Astrid S., Susanto, teori Komunikasi dan Praktek Jilid I, Cipta, Bandung, 1977.
13) Apabila yang dirujuk untuk catatan kaki tersebut berasal dari tulisan surat kabar, maka cara menulisnya sebagai berikut: 'Surabaya Post", 24 Mei, 1997.
14) Menulis footnote tidak perlu ditulis selengkap-lengkapnya. Jika suatu sumber sudah pernah dituliskan sebelumnya dengan lengkap, maka footnote tersebut dapat dipersingkat dengan menggunakan singkatan. Misalnya ibid, op. cit atau Loc.cit.  

Sumber :